Karawang – Suasana berbeda tampak di 53 Club Coffee. Jika biasanya kafe identik dengan tempat nongkrong dan bersantai, kali ini justru menjadi ruang penuh makna melalui kegiatan bertajuk “Majelis Coffee: Ngopi Ngobrol Perkara Iman”.
Kegiatan ini menjadi gebrakan baru yang digagas oleh Ketua Aliansi Ormas Islam, Gus Iman, dengan menghadirkan konsep pengajian di kafe—sesuatu yang terbilang unik dan jarang ditemui, khususnya di Karawang.
Dalam sambutannya, Gus Iman berharap konsep ini dapat menjadi inspirasi bagi kafe-kafe lain. Menurutnya, dakwah harus mampu beradaptasi dengan zaman, terutama untuk menjangkau kalangan Gen Z dan milenial yang lebih sering berkumpul di coffee shop dibandingkan di tempat formal seperti masjid.
Acara tersebut diisi oleh tausiyah dari Ustadz Ujang yang membahas pentingnya sholat sebagai pondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Sementara itu, Ustadz Sutrisno menyampaikan materi tentang keikhlasan dalam beribadah dan menjalani kehidupan. Menariknya, kegiatan ini juga diwarnai interaksi aktif antara pemateri dengan para pengunjung kafe, tidak hanya dari jamaah yang datang khusus, tetapi juga pengunjung umum.
Turut hadir dalam kegiatan ini Sekretaris Jenderal MUI Karawang, Kiai Yayan, serta Ketua DPW FPI Karawang, yang memberikan dukungan atas terselenggaranya kegiatan bernuansa dakwah tersebut.
Owner 53 Club Coffee, Aldi Andrianto, menyampaikan bahwa momen seperti ini sangat langka dan memiliki nilai positif yang besar. Ia menilai, kegiatan ini mampu menjadi sarana silaturahmi sekaligus membuka ruang bagi anak muda untuk belajar agama tanpa merasa terpaksa.
“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa membuka wawasan para pelaku usaha kafe lainnya. Bahwa kafe tidak hanya menjadi tempat nongkrong, tapi juga bisa menjadi sarana dakwah dan menebar kebaikan. Semoga ini menjadi ladang keberkahan dan bisa terus berkembang,” ujarnya.
Salah satu pengunjung, Jihad, juga mengapresiasi konsep tersebut. Ia mengaku tertarik datang setelah melihat informasi di media sosial. Menurutnya, pengajian di kafe menjadi pendekatan yang lebih relevan bagi anak muda saat ini.
“Ini keren sih. Banyak anak muda yang mungkin malu datang ke majelis atau masjid. Dengan konsep seperti ini, jadi lebih santai tapi tetap dapat ilmu. Semoga bisa diikuti oleh kafe-kafe lain,” ungkapnya.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, 53 Club Coffee tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga pelopor ruang dakwah kreatif yang merangkul generasi muda. Konsep “ngaji di kafe” ini diharapkan menjadi tren positif yang terus berkembang di Karawang dan daerah lainnya.
