Banjir di Lintas Melawi Kian Parah, Saluran Air Ditutup Demi Bangunan Komersial? Air Tak Punya Jalan Keluar: Drainase Ditutup, Kawasan Lintas Melawi Sintang Dilanda Genangan

Banjir di Lintas Melawi Kian Parah, Saluran Air Ditutup Demi Bangunan Komersial? Air Tak Punya Jalan Keluar: Drainase Ditutup, Kawasan Lintas Melawi Sintang Dilanda Genangan

Spread the love

SINTANG KALBAR, MEDIA TNI POLRI.COM

Persoalan banjir yang terus menghantui kawasan Lintas Melawi dan sekitarnya diduga bukan semata akibat hujan deras. Warga menyoroti adanya penutupan saluran drainase yang seharusnya menjadi jalur pembuangan air menuju sungai-sungai kecil dan Sungai Melawi. Penutupan itu diduga dilakukan oleh sejumlah pemilik bangunan ruko dan tempat perbelanjaan di kawasan tersebut.

Akibatnya, aliran air tersumbat dan kehilangan jalur keluar. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air pun meluap dan menggenangi jalan utama serta permukiman warga. Genangan yang terjadi disebut cukup tinggi dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Ironisnya, rumah ibadah pun tak luput dari dampak buruk tata kelola lingkungan yang amburadul itu. Masjid Al-Amin dilaporkan ikut terdampak banjir akibat tersendatnya aliran air di kawasan tersebut.

“Air masuk sampai ke area masjid. Ini bukan pertama kali terjadi. Kalau drainase ditutup seperti ini, ke mana air mau mengalir?” ujar salah seorang jamaah Masjid Al-Amin yang meminta identitasnya dirahasiakan saat diwawancarai media.

Warga menilai persoalan ini tidak boleh lagi dianggap sepele. Jika dibiarkan, genangan musiman bisa berubah menjadi bencana rutin yang merugikan masyarakat luas. Mereka menuding lemahnya pengawasan menjadi penyebab persoalan terus berulang.

“Pemerintah Kabupaten Sintang, DPRD Kabupaten Sintang, dan Instansi terkait harus segera mengambil sikap tegas. Jangan tunggu dampaknya makin parah baru sibuk turun tangan,” tegas narasumber tersebut.

Publik kini menunggu keberanian pemerintah menertibkan bangunan yang diduga menutup saluran air. Sebab bila kepentingan bisnis dibiarkan mengorbankan kepentingan umum, maka banjir hanyalah soal waktu yang akan terus datang berulang.

Drainase bukan pajangan, melainkan urat nadi kota. Ketika saluran air dipersempit atau ditutup demi kepentingan pribadi, maka masyarakatlah yang harus menanggung akibatnya. Pemerintah tak boleh tutup mata, sebab banjir ini diduga terjadi bukan karena alam semata, melainkan karena kelalaian manusia.

( TIM/RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *