Keraton Kasepuhan Masih berkonflik sampai saat ini, setelah terputus 234 tahun Sultan Sepuh Pangeran Kuda Putih sebagai Trah Asli Kanjeng Sunan Gunung Jati Bangkit

Keraton Kasepuhan Masih berkonflik sampai saat ini, setelah terputus 234 tahun Sultan Sepuh Pangeran Kuda Putih sebagai Trah Asli Kanjeng Sunan Gunung Jati Bangkit

Spread the love

 

Cirebon – Polemik di Keraton Kasepuhan yang mencuat sejak 2020 hingga kini belum juga mereda. Tercatat sudah ada tiga orang yang mengklaim sebagai Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan, yakni Rahardjo Jali, Lukman Zulkaedin, serta Pangeran Kuda Putih (Raden Heru Rusyamsi Arianatareja), yang dinobatkan oleh Dzuriah Sunan Gunung Jati Santana Kesultanan Cirebon. Pangeran Kuda Putih kini bergelar Sultan Sepuh VI Jaenuddin II Arianatareja.

Awalnya masyarakat Cirebon mengira konflik ini hanya sebatas perebutan internal keluarga keraton. Namun, setelah banyak informasi sejarah beredar melalui media sosial, publik mulai memahami adanya “sejarah peteng” (sejarah kelam) yang membuat legitimasi Sultan Sepuh dipertanyakan.

Menurut catatan Pilolog Sejarah almarhum Opan Safari, tahta Keraton Kasepuhan terputus sejak wafatnya Sultan Sepuh V Sofiudin Matangaji pada 1786. Setelah peristiwa pembunuhan tersebut, trah asli Sunan Gunung Jati meninggalkan keraton untuk menyelamatkan diri. Artinya, selama 234 tahun, kekuasaan Keraton Kasepuhan tidak lagi dipegang oleh keturunan langsung Sunan Gunung Jati maupun Pangeran Cakrabuana.

Pandangan Masyarakat

Seorang warga Cirebon, Nurman, menyatakan masyarakat kini sudah lebih paham tentang konflik ini.

> “Kami menilai hanya Pangeran Kuda Putih yang benar-benar trah asli Kanjeng Sunan. Beliau mau turun ke masyarakat, dan kalau ada yang berziarah, tidak pernah mematok tarif, hanya infak seikhlasnya,” ujar Nurman, Sabtu (13/7/2024).

 

Terkait anggapan bahwa Sultan harus tinggal di dalam keraton, Nurman menegaskan:

> “Tidak penting tinggal di dalam atau di luar keraton, yang penting akhlaknya mewarisi Kanjeng Sunan. Lagian Keraton Kasepuhan sudah menjadi cagar budaya milik pemerintah. Dulu pun Kanjeng Sunan lebih banyak bersama rakyat di luar keraton.”

 

Tatanan Tahta Keraton Kasepuhan

Pendiri Kesultanan Cirebon:

Pangeran Cakrabuana, lalu tahta diteruskan ke keponakan sekaligus menantunya, Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah).

Garis Kesultanan Kasepuhan Awal:

1. Sultan Sepuh I Pangeran Abul Makarim Muh. Syamsudin (1679–1697)

2. Sultan Sepuh II Pangeran Muh. Jamaludin (1697–1723)

3. Sultan Sepuh III Pangeran Tajul Arifin Jaenuddin I (1723–1753)

4. Sultan Sepuh IV Jaenuddin II Amirsena (1753–1773)

5. Sultan Sepuh V Sofiuddin Matangaji (1773–1786)

 

Masa kekosongan 234 tahun (1786–2020) akibat terbunuhnya Sultan Sepuh V.

Sultan Sepuh VI (2021–sekarang):

Sultan Sepuh Jaenuddin II Arianatareja / Pangeran Kuda Putih / Raden Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H.

Dengan demikian, menurut pihak pendukung, melalui Pangeran Kuda Putih tahta Keraton Kasepuhan kembali tersambung pada trah Sunan Gunung Jati.

Harapan dan Solusi

Masyarakat berharap pemerintah turun tangan dalam konflik ini. Ada dua opsi yang dinilai bisa menjadi solusi:

1. Mengembalikan pengelolaan Keraton Kasepuhan kepada keturunan asli Sunan Gunung Jati dan Pangeran Cakrabuana.

2. Pemerintah mengambil alih penuh pengelolaan cagar budaya Keraton Kasepuhan melalui Pemda, agar terhindar dari penyalahgunaan aset maupun kerusakan warisan budaya.

 

“Semoga dengan kembalinya Keraton Kasepuhan kepada dzuriah asli Sunan Gunung Jati, marwah dan kebesaran Cirebon dapat terjaga kembali,” demikian harapan masyarakat.

Referensi:

YouTube – Pilolog Sejarah Alm. Opan Safari 1

YouTube – Pilolog Sejarah Alm. Opan Safari 2

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *