Mediatnipolri.com
OGAN ILIR – Kepolisian Resor (Polres) Ogan Ilir terus mematangkan strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan merangkul partisipasi aktif masyarakat Desa Pulau Semambu Ogan Ilir Pada Jumat (25/9/2026) sekira pukul 09.00 wib.
Langkah segar diambil melalui peluncuran gerakan “Emak-Emak Peduli Karhutla”, sebuah program inovatif yang diprakarsai langsung oleh Ibu Kapolres Ogan Ilir, AKBP Rizka Aprianti, S.H., S.I.K., M.H.
Mengusung semboyan “Emak Bergerak, Api Dicegah, Desa Terjaga”, inisiatif ini berfokus pada pemberdayaan perempuan di tingkat perdesaan. Tujuannya adalah menjadikan mereka sebagai pilar penting dalam mendeteksi dan mencegah potensi kebakaran sejak dini. Gerakan ini menyasar berbagai kelompok perempuan, mulai dari anggota PKK, kader Posyandu, pelaku UMKM, jamaah pengajian, hingga ibu rumah tangga yang tinggal di kawasan rawan karhutla.
Dalam implementasinya, para ibu tidak didesak untuk turun langsung memadamkan kobaran api. Sebaliknya, peran mereka dioptimalkan sebagai sistem peringatan dini (early warning system) berbasis komunitas.
Sembari menjalankan aktivitas sehari-hari, mereka diharapkan peka memantau lingkungan sekitar—seperti melihat kepulan asap, aksi pembakaran sampah, pembersihan lahan dengan api, atau mendapati kondisi lahan yang terlampau kering.
Jika menemukan indikasi bahaya, anggota gerakan ini dibekali dengan metode “Satu Foto, Satu Lokasi”. Dari jarak aman, mereka cukup mengambil dokumentasi visual berupa foto atau video, menandai titik koordinat tempat kejadian, lalu meneruskannya kepada pemerintah desa serta petugas Bhabinkamtibmas. Laporan yang masuk akan langsung diverifikasi agar penanganan di lapangan oleh tim terkait bisa berjalan lebih cepat.
Selain berfungsi sebagai pengawas, gerakan ini juga mengedepankan edukasi persuasif lewat pendekatan “Emak Tegur Emak”.
Melalui forum-forum sosial seperti arisan, pengajian, dan kegiatan Posyandu, pesan-pesan pencegahan disebarkan lewat dialog sederhana yang menyentuh sisi kemanusiaan, misalnya mengingatkan dampak buruk asap kebakaran bagi kesehatan anak-anak di rumah.
Selaras dengan itu, program ini turut mengampanyekan gerakan “1 Rumah 1 Pencegah Api”. Setiap keluarga diajak berkomitmen untuk tidak membersihkan lahan dengan cara dibakar, bijak mengelola sampah rumah tangga, serta tanggap melapor jika melihat potensi titik api.
Melalui terobosan ini, AKBP Rizka Aprianti berharap mitigasi karhutla tidak lagi dipandang sebagai tugas aparat semata, melainkan menjadi tanggung jawab kolektif yang tumbuh dari lingkup keluarga dan lingkungan terkecil desa.
Dengan keterlibatan aktif kaum perempuan, arus informasi mengenai titik panas diharapkan mengalir lebih cepat sehingga bencana karhutla dapat ditekan secara maksimal.
