Tasyakuran Produksi Film Nasional, Sultan Sepuh Gaungkan Gerakan Stop Bullying, Bupati Kuningan Pimpin Deklarasi

Tasyakuran Produksi Film Nasional, Sultan Sepuh Gaungkan Gerakan Stop Bullying, Bupati Kuningan Pimpin Deklarasi

Spread the love

KUNINGAN – M T P

Kepedulian terhadap masa depan generasi muda diwujudkan melalui kegiatan tasyakuran dimulainya produksi film layar lebar nasional berjudul “Aku Bukan Musuhmu, tapi Aku Sahabatmu”, sekaligus pencanangan Kampanye Nasional Stop Bullying yang dimulai dari Kabupaten Kuningan.

Kegiatan berlangsung di Pendopo Bupati Kuningan, Minggu (1/11/2026), dan dihadiri langsung Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., Ketua DPRD Kabupaten Kuningan H. Nuzul Rachdy, S.E., serta sejumlah pejabat pemerintahan, unsur legislatif, TNI-Polri, tokoh masyarakat, dunia usaha, insan perfilman, dan tamu undangan lainnya.

Turut hadir anggota DPR RI Bapak Rachmat Ardian, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat H. Dudy Pamuji, anggota DPRD Kabupaten Kuningan Sri Laelasari, Kapolres Kuningan AKBP Bellen Anggara Pratama, S.I.K., M.Si., serta Dandim Kuningan Letkol Hafda.

Hadir pula Pemimpin Cabang Bank BJB Kuningan Yonathan, jajaran Direksi Kuda Putih Picture, khususnya Rd. Fatur, beserta sutradara, kru produksi, para pemain, dan seluruh keluarga besar perfilman Kuningan.

Selain itu, kegiatan dihadiri para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pengusaha, sponsor, mitra vendor, pelaku UMKM, insan pers, serta berbagai elemen masyarakat yang turut memberikan dukungan terhadap produksi film dan gerakan Stop Bullying.

SULTAN SEPUH: STOP BULLYING ADALAH GERAKAN KEMANUSIAAN

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Cirebon, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., S.H., M.H., selaku Dipertuan Agung sekaligus Ketua Umum Dewan Adat Nasional Republik Indonesia (DANRI).

Dalam sambutannya, Sultan Sepuh menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni dimulainya produksi film, melainkan momentum penting untuk membangun gerakan kemanusiaan dalam melindungi anak-anak Indonesia dari segala bentuk perundungan atau bullying.

Menurutnya, bullying bukan persoalan sepele maupun sekadar kenakalan anak-anak, melainkan persoalan kemanusiaan yang dapat berdampak serius terhadap kondisi mental, kepercayaan diri, karakter, bahkan masa depan korban.

“Anak-anak yang seharusnya pergi ke sekolah dengan penuh kegembiraan, justru ada yang berangkat dengan ketakutan. Kita tidak boleh terus menjadi penonton ketika anak-anak kita menjadi korban. Kita semua memiliki tanggung jawab moral untuk hadir, melindungi, dan memberikan rasa aman kepada mereka,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, film “Aku Bukan Musuhmu, tapi Aku Sahabatmu” merupakan persembahan putra-putri daerah Kuningan untuk Nusantara. Sekitar 80 persen penggagas cerita, sutradara, pemain, dan kru produksi disebut merupakan putra-putri daerah Kuningan.

Hal tersebut menjadi bukti bahwa daerah memiliki potensi sumber daya manusia dan kreativitas yang mampu melahirkan karya perfilman berkualitas untuk tingkat nasional.

Melalui film tersebut, pesan tentang persahabatan, kasih sayang, kepedulian, persaudaraan, serta pentingnya saling menghargai diharapkan dapat menjangkau masyarakat luas, khususnya kalangan pelajar dan generasi muda.

Sultan Sepuh juga menyampaikan bahwa Dewan Adat Nasional Republik Indonesia (DANRI) berencana membentuk Satuan Tugas (Satgas) Stop Bullying di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia.

Satgas tersebut diharapkan dapat bersinergi dengan KPAI, KPAID, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, kepolisian, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur terkait dalam memperkuat edukasi, pencegahan, pendampingan, dan perlindungan anak.

Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap penggunaan teknologi dan konten digital yang dapat memengaruhi perilaku anak-anak. Menurutnya, kemajuan teknologi harus diarahkan menjadi sarana pendidikan dan pengetahuan, bukan justru menjadi pintu masuk bagi kekerasan, penghinaan, maupun perilaku agresif.

“Indonesia Emas tidak cukup hanya dibangun dengan generasi yang sehat secara fisik. Kita membutuhkan generasi yang kuat mentalnya, cerdas pikirannya, baik akhlaknya, memiliki empati, dan mampu menghormati sesama,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Sultan Sepuh mengajak pemerintah, unsur legislatif, aparat keamanan, pengusaha, sponsor, pelaku UMKM, insan pers, dan seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendukung produksi film serta gerakan sosial Stop Bullying.

Ia berharap Kabupaten Kuningan tidak hanya menjadi lokasi dimulainya produksi film, tetapi juga menjadi daerah pelopor gerakan kepedulian terhadap perlindungan anak.

“Dari sebuah kabupaten lahir sebuah gagasan, dari sebuah gagasan lahir sebuah gerakan, dan dari sebuah gerakan kita berharap lahir perubahan untuk Indonesia. Mari kita gaungkan dari Kuningan untuk Nusantara. Stop Bullying, berani peduli, berani melindungi, dan berani berubah,” serunya.

BUPATI PIMPIN DEKLARASI KUNINGAN STOP BULLYING

Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan Deklarasi Kuningan Stop Bullying yang dipimpin langsung oleh Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si.

Deklarasi tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk mencegah perundungan serta menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak-anak.

Keterlibatan Bupati Kuningan dalam deklarasi ini diharapkan menjadi dorongan bagi seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam mencegah tindakan bullying, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun kehidupan sosial.

Kehadiran Wakil Bupati, Ketua DPRD, anggota DPR RI, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, anggota DPRD Kabupaten Kuningan, serta Kapolres dan Dandim memperlihatkan kuatnya dukungan lintas sektor terhadap gerakan perlindungan generasi muda.

Dukungan jajaran Direksi Kuda Putih Picture, khususnya Rd. Fatur, bersama seluruh sutradara, kru produksi, para pemain, pengusaha, sponsor, mitra vendor, pelaku UMKM, dan insan pers juga menjadi bagian penting dalam menyukseskan produksi film tersebut.

Kolaborasi berbagai unsur ini diharapkan mampu menjadikan film bukan hanya sebagai karya hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi dan penyampaian pesan moral kepada masyarakat.

KUNINGAN MENJADI TITIK AWAL GERAKAN NASIONAL

Kegiatan tasyakuran ini menjadi momentum untuk menyatukan kepedulian berbagai pihak terhadap masa depan anak-anak Indonesia.

Produksi film nasional “Aku Bukan Musuhmu, tapi Aku Sahabatmu” diharapkan tidak hanya menghasilkan karya perfilman yang membanggakan, tetapi juga mampu membangun kesadaran masyarakat tentang bahaya perundungan dan pentingnya menanamkan nilai persahabatan, empati, serta saling menghargai.

Dengan mengusung pesan “Satu Teman Bisa Mengubah Dunia”, gerakan ini mengajak seluruh masyarakat untuk tidak melakukan bullying, tidak membiarkan perundungan terjadi, serta berani memberikan dukungan kepada anak-anak yang menjadi korban.

Melalui pencanangan gerakan Stop Bullying dari Kabupaten Kuningan, diharapkan lahir langkah nyata dan berkelanjutan dalam membangun generasi Indonesia yang berkarakter, berakhlak, saling menghargai, serta tumbuh dalam lingkungan yang aman dan bebas dari perundungan.

Dari Kuningan untuk Nusantara. Bersama kita lindungi generasi bangsa.

STOP BULLYING! BERANI PEDULI, BERANI MELINDUNGI!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *