DARI KERATON UNTUK INDONESIA: SULTAN SEPUH CIREBON INISIASI FILM NASIONAL DAN GERAKAN STOP BULLYING

DARI KERATON UNTUK INDONESIA: SULTAN SEPUH CIREBON INISIASI FILM NASIONAL DAN GERAKAN STOP BULLYING

Spread the love

KUNINGAN — Peran pemimpin tradisional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kembali mendapat perhatian melalui langkah Sultan Sepuh Keraton Kasepuhan Kesultanan Cirebon, Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., S.H., M.H., yang dikenal dengan sebutan Pangeran Kuda Putih.

Tidak hanya berfokus pada pelestarian tradisi dan kebudayaan, Sultan Sepuh Cirebon tersebut mengambil inisiatif di bidang sosial melalui produksi film layar lebar nasional berjudul Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu. Proyek perfilman ini sekaligus diarahkan menjadi bagian dari kampanye nasional STOP BULLYING yang dimulai dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Langkah tersebut menghadirkan perspektif berbeda mengenai peran seorang Sultan di era modern. Warisan sejarah dan kebudayaan, menurut gagasan yang dibawa Pangeran Kuda Putih, tidak seharusnya berhenti sebagai simbol identitas masa lalu, tetapi juga perlu diwujudkan dalam kontribusi nyata terhadap persoalan masyarakat masa kini.

Menghadirkan perspektif baru kepemimpinan tradisional

Selama ini, peran kerajaan dan kesultanan Nusantara lebih sering diidentikkan dengan pelestarian adat, tradisi, sejarah, serta warisan kebudayaan. Melalui inisiatif ini, Pangeran Kuda Putih berupaya memperluas ruang pengabdian tersebut dengan mengangkat persoalan perlindungan anak dan pembangunan karakter generasi muda.

Produksi film ini menjadi salah satu bentuk pendekatan kreatif untuk menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat. Film dipilih karena memiliki kemampuan menjangkau berbagai kelompok masyarakat melalui cerita, visual, dan pengalaman emosional penontonnya.

Bagi Pangeran Kuda Putih, persoalan perundungan bukan sekadar konflik ant anak atau persoalan kedisiplinan di lingkungan pendidikan. Bullying merupakan persoalan sosial yang dapat meninggalkan dampak psikologis, mengganggu perkembangan anak, serta memengaruhi pembentukan karakter dan kepercayaan diri mereka.

Latar belakang pendidikan Psikologi dan Hukum yang dimilikinya turut menjadi landasan dalam membangun pendekatan yang menggabungkan perspektif psikologis, edukasi, perlindungan, dan kesadaran hukum.

Film sebagai instrumen edukasi dan gerakan sosial

Film Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu dirancang tidak semata-mata sebagai produk industri hiburan. Karya ini membawa misi edukasi publik mengenai pentingnya membangun lingkungan yang aman, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap anak-anak yang mengalami perundungan.

Melalui Kuda Putih Picture, gagasan tersebut diwujudkan dalam produksi film layar lebar dengan melibatkan insan perfilman dan talenta kreatif, termasuk potensi sumber daya manusia dari Kabupaten Kuningan.

Pemilihan Kuningan sebagai titik awal kegiatan juga membawa misi lain, yakni membuka ruang bagi talenta daerah untuk terlibat dalam industri perfilman nasional.

Dengan demikian, proyek ini diharapkan memberikan dua kontribusi sekaligus, yaitu memperluas edukasi mengenai bahaya bullying dan mendorong pertumbuhan kreativitas serta potensi perfilman daerah.

Gerakan STOP BULLYING yang menyertainya diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial maupun penayangan film, tetapi berkembang menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat.

“Biarkan mereka membenahi negara, biarkan saya mengurus anak-anak Indonesia”

Salah satu pernyataan yang menggambarkan arah pemikiran Pangeran Kuda Putih adalah komitmennya untuk mengambil bagian dalam perlindungan generasi muda.

“Generasi bangsa wajib kita sayangi, wajib kita kawal, dan wajib kita temani menuju kedewasaannya. Anak-anak Indonesia bukan hanya penerus bangsa, tetapi juga amanah yang harus kita jaga bersama,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan pernyataan yang menjadi refleksi dari pilihan pengabdiannya.

“Biarkan mereka sibuk membenahi negara, biarkan saya yang mengurus anak-anak Indonesia.”

Pernyataan tersebut, menurutnya, bukan dimaksudkan untuk memisahkan tanggung jawab perlindungan anak dari tanggung jawab negara. Sebaliknya, hal itu merupakan ajakan agar seluruh elemen bangsa mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Ia menilai bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan penguatan kelembagaan. Pembangunan karakter serta perlindungan generasi muda merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masa depan Indonesia.

Mengajak tokoh nasional dan dunia usaha berkolaborasi

Untuk memperluas jangkauan gerakan tersebut, Pangeran Kuda Putih mengajak para tokoh nasional, kepala daerah, pengusaha, insan perfilman, tokoh agama, tokoh adat, serta masyarakat luas untuk mendukung produksi film dan kampanye STOP BULLYING.

Dukungan tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi program edukasi, penyebarluasan pesan kampanye, pendampingan korban perundungan, serta dukungan pembiayaan produksi dan kegiatan sosial.

Menurutnya, persoalan bullying tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga atau kelompok saja. Dibutuhkan keterlibatan bersama agar anak-anak memperoleh lingkungan yang aman, baik di rumah, sekolah, pesantren, maupun ruang sosial lainnya.

Dari pelestarian tradisi menuju kontribusi kebangsaan

Langkah Sultan Sepuh Cirebon ini sekaligus menghadirkan diskursus mengenai relevansi kepemimpinan tradisional dalam kehidupan Indonesia modern.

Eksistensi Raja dan Sultan Nusantara tidak hanya dapat dilihat dari keberlangsungan tradisi dan simbol kebudayaan, tetapi juga dari kontribusi sosial yang mampu diberikan kepada masyarakat.

Bagi Pangeran Kuda Putih, menjaga warisan leluhur dan memperjuangkan masa depan generasi bangsa merupakan dua tanggung jawab yang dapat berjalan beriringan.

Inisiatif ini menjadi warna baru dalam perjalanan kepemimpinan Kesultanan Cirebon, sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai kepemimpinan tradisional dapat diterjemahkan ke dalam karya kreatif dan gerakan kemanusiaan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Pada akhirnya, keberhasilan gerakan ini tidak hanya akan diukur dari seberapa besar perhatian yang diperoleh sebuah film, tetapi juga dari seberapa luas pesan STOP BULLYING diterima masyarakat dan seberapa banyak anak yang dapat terlindungi dari tindakan perundungan.

Dari Keraton untuk Indonesia, sebuah pesan disampaikan: anak-anak bukan untuk ditakuti, bukan untuk direndahkan, dan bukan untuk disakiti. Mereka harus disayangi, dilindungi, dan dipersiapkan menjadi generasi masa depan bangsa.

STOP BULLYING.

AKU BUKAN MUSUHMU, TAPI AKU SAHABATMU.

 

Keterangan:

– Inisiator gagasan dan produser: Sultan Sepuh Cirebon Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja.
– Rumah produksi: Kuda Putih Picture.
– Program sosial: Kampanye STOP BULLYING.
– Titik awal gerakan: Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *