*Ketergantungan pada LKS Ancam Fungsi KKG di Sekolah Dasar Kab.Kuningan Jawa barat*

*Ketergantungan pada LKS Ancam Fungsi KKG di Sekolah Dasar Kab.Kuningan Jawa barat*

Spread the love

 

Kuningan,Mediatnipolri.com

Penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) secara masif di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Kuningan mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak. Praktik ini dinilai menggeser peran strategis Kelompok Kerja Guru (KKG) sebagai wadah pengembangan profesionalisme guru.

LKS kerap dijadikan solusi instan oleh guru dalam menyusun perangkat ajar. Materi yang sudah siap pakai membuat sebagian guru enggan berpikir kritis, merancang pembelajaran, atau mengembangkan soal secara kolaboratif melalui forum KKG.

“LKS telah menjadikan guru sebagai distributor materi, bukan lagi sebagai perancang pembelajaran. Ini berbahaya dalam jangka panjang,” ujar seorang kepala sekolah yang enggan disebutkan namanya.

Akibatnya, fungsi KKG sebagai ruang dialog pedagogis dan inovasi pembelajaran nyaris mati suri. Forum yang seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan kini hanya menjadi formalitas administratif. Banyak guru hadir hanya untuk mengisi daftar hadir, lalu pulang tanpa proses kreatif yang bermakna.

Ironisnya, beberapa sekolah bahkan menjadikan LKS sebagai sumber utama pembelajaran. Sekolah-sekolah ini seolah menyerahkan tanggung jawab perancangan pembelajaran kepada pihak penerbit LKS.

Padahal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menekankan pentingnya komunitas belajar guru melalui KKG untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ketergantungan berlebihan pada LKS justru menjauhkan guru dari semangat merdeka belajar yang menuntut kreativitas, refleksi, dan kemandirian.

Di sisi lain, publik juga berharap agar Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan mengambil langkah tegas dalam mengendalikan penggunaan LKS secara berlebihan. Diperlukan kebijakan konkret untuk menghidupkan kembali fungsi KKG sebagai ruang peningkatan kompetensi guru, bukan sekadar ruang kosong tanpa substansi.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang akan dirugikan bukan hanya para guru, tetapi juga generasi peserta didik yang kehilangan kesempatan untuk mengalami proses pembelajaran yang bermakna dan sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.

(Red/team)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *