Pasca-MTQ, Saatnya Pembinaan Berkelanjutan Menjadi Prioritas Oleh: Dr. H. Abdul Basir Amin, S.Ag., M.Pd.

Pasca-MTQ, Saatnya Pembinaan Berkelanjutan Menjadi Prioritas Oleh: Dr. H. Abdul Basir Amin, S.Ag., M.Pd.

Spread the love

 

Praktisi Al-Qur’an dan Dewan Hakim MTQ Nasional

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2026 telah usai. Para juara telah ditetapkan, penghargaan telah diberikan, dan euforia kemenangan perlahan mulai mereda. Namun, sesungguhnya berakhirnya MTQ bukanlah akhir dari proses pembinaan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar, terutama dalam mempersiapkan kafilah Provinsi Kepulauan Riau menghadapi MTQ Tingkat Nasional Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah.
Sudah saatnya pola pembinaan MTQ diubah dari pendekatan yang bersifat insidental menjadi pembinaan yang berkelanjutan. Selama ini, pembinaan sering kali lebih intensif menjelang pelaksanaan musabaqah. Padahal, prestasi nasional hanya dapat diraih melalui proses latihan yang konsisten, terukur, dan dilakukan sepanjang tahun.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah evaluasi secara menyeluruh terhadap pelaksanaan MTQ tingkat provinsi. Evaluasi tidak cukup hanya melihat daftar juara, tetapi harus menyentuh kualitas peserta, efektivitas sistem pembinaan, kesiapan pelatih, metode seleksi, hingga kelemahan yang masih ditemukan di setiap cabang musabaqah. Dari evaluasi itulah lahir kebijakan yang tepat untuk meningkatkan kualitas kafilah.
Peran LPTQ Provinsi Kepulauan Riau bersama Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Kepulauan Riau menjadi sangat strategis. Keduanya perlu segera menyusun program pembinaan terpadu melalui Training Center (TC) yang dilaksanakan secara berkesinambungan, baik secara daring maupun luring. Pembinaan harus melibatkan pelatih yang kompeten, dewan hakim berpengalaman, serta para praktisi Al-Qur’an yang memahami standar penilaian MTQ nasional.
Pembinaan juga tidak boleh hanya berorientasi pada aspek teknis, seperti tajwid, fashahah, lagu, tahfiz, tafsir, syarhil, fahmil, dan khat Al-Qur’an. Yang tidak kalah penting adalah membangun mental juara, memperkuat keikhlasan, membentuk akhlak mulia, serta menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Sebab, peserta MTQ sejatinya bukan hanya duta perlombaan, tetapi juga duta syiar Islam di tengah masyarakat.
Bagi peserta yang berhasil meraih Juara I, prestasi tersebut bukanlah garis finis. Justru, mereka memikul amanah yang lebih besar sebagai wakil daerah di tingkat nasional. Mereka harus terus berlatih dengan disiplin, memperbanyak murojaah, menjaga kualitas hafalan, suara, kesehatan, serta terus belajar dari para qari, qariah, hafiz, dan hafizah terbaik di tingkat nasional maupun internasional.
Prestasi tidak lahir karena bakat semata. Prestasi adalah hasil dari latihan yang panjang, pembinaan yang terarah, evaluasi yang jujur, kerja sama yang solid, serta doa yang terus dipanjatkan kepada Allah SWT. Karena itu, keberhasilan di MTQ Nasional bukan hanya menjadi tanggung jawab peserta, melainkan juga tanggung jawab pemerintah daerah, LPTQ, pelatih, pembina, orang tua, dan seluruh masyarakat.
Apabila seluruh komponen mampu bersinergi dan menjadikan pembinaan sebagai prioritas utama, saya optimistis Provinsi Kepulauan Riau akan tampil lebih kompetitif pada MTQ Tingkat Nasional Tahun 2026 di Semarang. Lebih dari itu, kita berharap lahir generasi Qurani yang tidak hanya berprestasi di arena musabaqah, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Disampaikan pada Minggu, 12 Juli 2026, pukul 12.45 WIB, di seputaran Batam Centre.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *