Oleh: Anjas Setiawan
Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Langit tidak pernah memilih siapa yang berhak meraih bintang.” Yang membedakan seseorang bukanlah tempat ia dilahirkan, melainkan keberanian untuk terus berjalan ketika jalan terasa semakin berat. Saya adalah bagian dari kisah itu. Saya lahir bukan dari keluarga berada, melainkan dari keluarga petani yang menjadikan kejujuran, kerja keras, dan doa sebagai harta paling berharga.
Menjadi anak petani mengajarkan saya bahwa setiap butir nasi yang tersaji di meja makan berasal dari tetesan keringat orang tua. Saya tumbuh dengan menyaksikan bagaimana ayah dan ibu berjuang melawan terik matahari demi memastikan anak-anaknya tetap bisa bersekolah. Dari sanalah saya memahami bahwa pendidikan bukan sekadar mencari gelar, tetapi menjadi jalan untuk mengangkat harkat keluarga dan membalas pengorbanan orang tua.
Perjalanan menuju gelar doktor bukanlah perjalanan yang lurus dan mulus. Ia dipenuhi tanjakan, kegagalan, rasa lelah, dan keraguan. Ada saat-saat ketika tubuh terasa letih, pikiran dipenuhi tekanan, dan waktu seakan tidak lagi cukup untuk menjalankan semua tanggung jawab. Namun, setiap kali ingin menyerah, saya selalu teringat wajah kedua orang tua yang tidak pernah berhenti berharap agar anaknya memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Perjuangan tidak pernah semudah membalikkan telapak tangan. Gelar doktor bukan hadiah, melainkan hasil dari ribuan jam membaca, meneliti, menulis, berdiskusi, dan memperbaiki kesalahan. Ada tenaga yang terkuras, ada keringat yang bercucuran, ada waktu istirahat yang dikorbankan, bahkan ada momen kebersamaan dengan keluarga yang harus ditunda demi menyelesaikan amanah akademik.
Dalam perjalanan itu, saya belajar bahwa mimpi tidak cukup hanya diucapkan. Mimpi harus diperjuangkan. Siang menjadi perjuangan, malam menjadi renungan. Siang dipenuhi pekerjaan, malam dipenuhi lembar-lembar buku dan penelitian. Ketika sebagian orang menikmati waktu luang, saya masih bergelut dengan teori, jurnal ilmiah, dan penyusunan disertasi. Semua itu dilakukan bukan demi sebuah gelar, melainkan demi membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Di balik setiap keberhasilan, selalu ada sosok yang menjadi sumber kekuatan. Kepada istri tercinta, Aprilia Indah Monica, S.H., saya persembahkan rasa hormat dan terima kasih yang tak terhingga. Engkau adalah sahabat terbaik dalam setiap langkah kehidupan. Ketika semangat mulai melemah, engkau hadir menguatkan. Ketika langkah mulai goyah, engkau hadir meyakinkan bahwa semua pengorbanan tidak akan sia-sia.
Kepadamu kasih tercurah. Terima kasih telah menjadi rumah bagi segala lelah, menjadi penenang dalam setiap kegelisahan, dan menjadi penyemangat ketika perjalanan terasa begitu panjang. Tanpa doa, kesabaran, dan ketulusanmu, mungkin perjalanan ini tidak akan sampai pada garis akhir.
Kepada anak tercinta, saya berharap perjalanan ini kelak menjadi pelajaran bahwa kesuksesan tidak diwariskan, tetapi diperjuangkan. Tidak ada keberhasilan yang lahir dari kemalasan. Yang ada hanyalah hasil dari disiplin, kerja keras, doa, dan keyakinan kepada Allah SWT.
Sebagai seorang Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), saya percaya bahwa ilmu tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ilmu harus hadir di tengah masyarakat, memberikan kepastian hukum, menghadirkan keadilan, dan menjadi solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi bangsa. Gelar akademik hanyalah simbol, sedangkan pengabdian adalah makna sesungguhnya.
Perjalanan akademik hingga meraih gelar doktor di Universitas Jambi pada tahun 2026 menjadi pengingat bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi, setiap langkah menyimpan cerita, setiap kegagalan menyimpan pelajaran, dan setiap doa menyimpan harapan yang akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT.
Saya ingin menyampaikan kepada seluruh anak-anak Indonesia, terutama mereka yang lahir dari keluarga sederhana: jangan pernah malu menjadi anak petani, anak nelayan, anak buruh, atau anak pedagang kecil. Yang harus kita malu adalah ketika berhenti belajar dan menyerah sebelum berjuang. Keadaan ekonomi boleh terbatas, tetapi mimpi tidak boleh dibatasi.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa tinggi jabatan yang diraih atau seberapa banyak gelar yang dimiliki. Hidup adalah tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain. Sebab, ilmu yang tidak diamalkan hanyalah kebanggaan yang kosong, sedangkan ilmu yang bermanfaat akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan banyak orang.
Saya percaya, seorang anak petani dapat menjadi doktor. Seorang anak desa dapat berdiri di mimbar akademik. Dan setiap mimpi yang dibangun dengan doa, kerja keras, ketekunan, serta cinta yang tulus pada akhirnya akan menemukan jalannya menuju kenyataan.
