Oleh, Maman A Majid Binfas
Mungkin tidak terlalu keliru, manakala, intelek mulai bekerja di dalam spekulatif filosofis, ia berpindah dari sekadar memahami data indrawi atau realitas praktis sehari-hari menuju pencarian hakikat terdalam tentang prinsip keberadaannya.
Dalam tradisi filsafat, seperti metafisika dan epistemologi, fase ini menandai transisi penting dalam cara logika manusia berpikir.
Namun, menurut Francis Cornford (2026:197), bahwa filosofis spekulatif demikian, hampir tidak menciptakan konsep _konsep baru, melainkan sekedar menganalisis isi dari data dasarnya, dan dari sanalah menurunkan berbagai sistem pemikiran yang berbeda.
Dan inilah esensi filosofis retorik yang dipanggungkan oleh Rocky Gerung selama ini sehingga laku menjadi gorengangannya!
Bahan bakar logika diksi dungu selama ini sehingga didungukan dengan sangat mudah untuk disanggarai dan tersandra oleh kekuasaan ala Presiden Prabowo!
Juga Presiden
Kalau// di dunia nyata//publik mengenal Presiden// tetapi //
belum tentu sebaliknya//dia mengenalinya
terkecuali//akumulasi suara ketika pemilihan //sehingga ia jadi Presiden
Mungkin//di dunia ghaib saja//akan justru saling berhadapan
termasuk //Aku //demikian juga yang lain bersorak
sesak//atau sasar//dan hingga bertautan //berhingga //Aku//
atau juga Presiden
tentu//hal biasa saja //bila kontras ‘tuk berbeda
…
Wajar Kontras Rocky Gerung
Bila para pendukung menilai langkah Presiden Prabowo Subianto merekrut Rocky Gerung adalah upaya positif untuk membawa suara kritis langsung ke pusat kebijakan. Wantimpres dapat berfungsi sebagai oversight committee yang memberikan evaluasi tajam dan berbasis etika terhadap program pemerintah. Namun, di sisi lain ada bernarasi sangat kontras, di mana ada kekhawatiran bahwa masuknya Rocky ke Istana merupakan strategi untuk meredam oposisi atau menjinakkan kritik. Ada kekhawatiran watak kritisnya akan melunak setelah berada di dalam pusaran kekuasaan.
Kemudian, dianggap Wajar bila ada juga kritik publik juga mengarah pada inkonsistensi sikap Rocky Gerung. Di masa lalu, ia kerap membangun jarak yang tegas dengan kekuasaan, sehingga keputusannya menerima jabatan ini dipertanyakan oleh sebagian pendukungnya terdahulu.
Sementara, Rocky Gerung sendiri menyatakan bahwa Wantimpres memegang fungsi etis, bukan teknis. Keahliannya dalam filsafat dan analisis politik diharapkan mampu memberikan pertimbangan mendalam (proses mengingat dan menimbang) agar keputusan presiden memiliki dasar moral yang kuat.
Dikarenskan esensi dari Wantimpres memberikan masukan kepada Presiden, itu bersifat rahasia dan tidak boleh dipublikasikan. Hal ini dinilai merugikan publik karena masyarakat tidak lagi bisa mendengar argumen atau kritik terbuka Rocky yang biasanya memicu diskusi intelektual di ruang publik sehingga tidak garing untuk digoreng lagi !
Garing Rocky Gerung
Goreng //Rocky Gerung //agar tak menggonggong
Kritis//memang kontras// Rocky Gerung Wantimpres
Rocky Gerung//di luar berdiksi dungu semakin liar//memang kebangetan garing berliur
Rocky Gerung//di dalam kerangkeng //akan kebeletan mesti dibalutin sehingga tak mengaung bajing
Garing //Rocky Gerung //lolos wantimpres juga melolong
Kenapa tidak //publik berhak ‘tuk gebrak //sebagai pemilik Republik
…
Sama halnya dengan ragam komentar dari goresan diksi di atas, ketika diupload di media sosial, baik di group Whatsapp maupun Facebook juga yang lain, di antaranya.
Mulyadi Abdul Gani:
“Namanya juga Gerung. Dalam bahasa Jawa, “gerung” artinya meraung. Anak kecil yang cengeng kalau kemauannya gak dituruti, akan “nangis gerung-gerung” (nangis meraung-raung). Baru diam sambil sesenggukan, kalau diberi sesuatu yang menyenangkan, meskipun nilainya gak seberapa. Yang penting dia senang.๐ ”
Kemudian, saya balas dengan singkat ” mas Mulyadi Abdul Gani… oh gitu .. ๐” dan dibalas oleh Mulyadi Abdul Gani:
“Saya sampai berkhayal kalau itu dibacakan Bang Maman langsung di depan Rocky Gerung. Pasti bakal jederrr/geger …!!!๐
” dan saya hanya kasih like dengan ๐
Selanjutnya, Yanti berkomentar;
“Beliau tiba pada faseย menenangkan diri tak lagi meraung… Innalillahi….”
Kemudian, saya balas; Ya, mungkin demikian mba Yanti. Ada proses, namun disayangkan agak kontras, sekalipun jadi pilihannya untuk menjemput alam lain bersama junjungannya ๐” dan di balas oleh Yanti: “Mungkin lelah dan memilih untuk berdamai dengan kepentingan.” saya hanya like ๐.
Jadi, munculnya tanggapan yang beragam, bukan berarti karena rasa iri atau benci, tetapi justru rasa sayang mereka yang sesuai kadar filosofis yang dipahaminya masing-masing.
Munkin boleh difilosofiskan, seperti orang yang menikah mesti berposisi memilih dengan jenis kelamin yang berbeda, baru bisa terjadi beresensi proses dinamika berakad_”sakinah, mawaddah warahmah”/keluarga yang penuh dengan ketenangan, cinta kasih, dan belas kasihan”. Dilaksanakan proses pernikahan demikian, sehingga tidak berbuat yang dikesankan berkelainan di dalam melakukan aliran syahwatan yang bisa dikutuk oleh Tuhan, misalnya perbuatan tercela, baik bersifat onani atau juga sodomi.
Terlepas dari diksi tercela tersebut, memang hadirnya perbedaan pandangan atau jenis kelamin di dalam bergagasan justru akan berbuah “mawaddah warahmah” yang diridhoi dan diberkahi Tuhan. Sekalipun, bersifat oposisi di dalam filosofis spekulatif, namun berdampak positif yang berakar “mawaddah warahmah” yang sesungguhnya berakar kepada ketulusan secara tulen.
Jadi, esensi dari oposisi yang dilakukan oleh Rocky Gerung selama ini, yakni di ranah filosofis spekulatif beride atau bergagasan agar sakinah berakal sehat dan tidak bekedunguan di dalam bernegara sehingga bergasing bebas tanpa beban. Justru bagi pihak oposisi yang bergagasan cerdas, tentunya akan lebih elok dan sakinah di dalam pemerintah sehingga tidak oposan saja_ yang berkesankan bah topik goresan ini.
Bahkan, para oposisi yang bergagasan brilian mestinya ditarik masuk untuk bergabung di dalam pemerintahan ala Presiden Prabowo. Hal demikian, dilakikan guna menghindar dagelan beramukan liaran yang suka bergaya dagelan membakar ban atau gedung, demi posisi yang komposisi berpaduan suara di dalam akuarium pemerintahan, dan mungkin memang dikesankan kelam._ Wallahualam.(Ditulis ulang: Nursalim)
