BITUNG — Sulawesi Utara | MediaTNI-Polri.com — Wakil Komandan Komando Daerah Angkatan Laut (Wadan Kodaeral) VIII hadir mewakili Komandan Kodaeral VIII dalam puncak Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) 2026 yang berlangsung meriah di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Kehadiran perwira tinggi TNI Angkatan Laut tersebut menjadi bagian dari dukungan institusi TNI AL terhadap pengembangan pariwisata bahari, pelestarian budaya, serta penguatan perekonomian masyarakat pesisir. Sabtu, 10 Oktober 2026.
Perhelatan festival berskala nasional ini dipusatkan di kawasan Markas Satuan Patroli (Satrol) Kodaeral VIII. Dalam momentum tersebut, kawasan pangkalan TNI AL dimanfaatkan sebagai lokasi penyelenggaraan agenda pariwisata tahunan yang menjadi kebanggaan masyarakat Kota Bitung. Keterlibatan TNI AL sekaligus memperlihatkan ruang kolaborasi antara institusi pertahanan dan pemerintah daerah dalam mendukung potensi maritim sebagai daya tarik wisata.
Mengusung tema “Harmoni”, FPSL 2026 menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, toleransi, dan kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat. Wadan Kodaeral VIII bersama jajaran Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Pemerintah Kota Bitung mengikuti rangkaian kegiatan yang menampilkan kekayaan budaya daerah serta potensi bahari Selat Lembeh sebagai salah satu kebanggaan Sulawesi Utara.
Rangkaian acara puncak diawali dengan pertunjukan tarian tradisional dan atraksi seni budaya yang dibawakan para seniman lokal. Suasana semakin semarak ketika anak-anak penari menyambut rombongan tamu kehormatan dan memimpin perjalanan menuju Dermaga Satrol Bitung. Wadan Kodaeral VIII tampak berjalan bersama Asisten III Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Dr. Fransiscus, yang hadir mewakili gubernur, didampingi Komandan Satrol Kodaeral VIII serta jajaran pejabat daerah.
Setibanya di kawasan dermaga, Wadan Kodaeral VIII bersama para undangan menyaksikan agenda utama berupa Sailing Pass atau Parade Perahu Hias di perairan Selat Lembeh. Atraksi tersebut menjadi salah satu daya tarik utama festival dengan menampilkan beragam kapal dan perahu yang dihiasi ornamen serta corak bernuansa bahari. Pemandangan tersebut memperlihatkan kreativitas masyarakat pesisir dalam mengangkat identitas maritim Kota Bitung kepada khalayak luas.
Dukungan TNI AL terlihat melalui keterlibatan armada Satrol Kodaeral VIII yang memimpin dan mengawal iring-iringan parade. Unsur kapal patroli membantu menjaga keteraturan formasi peserta selama kegiatan berlangsung. Ratusan perahu, mulai dari kapal nelayan tradisional hingga taksi laut dan unsur kapal patroli, turut memeriahkan peragaan tersebut sehingga menciptakan pemandangan bahari yang menarik perhatian masyarakat dan wisatawan.
Antusiasme warga terlihat di sepanjang pesisir Selat Lembeh. Masyarakat setempat dan para pengunjung menyaksikan parade sekaligus mengabadikan berbagai atraksi yang berlangsung di laut. Kegiatan ini menjadi ruang promosi bagi kekayaan maritim Bitung, sekaligus membuka peluang untuk meningkatkan kunjungan wisata, memperkenalkan budaya lokal, dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata bahari.
Sejumlah pejabat turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Wali Kota Bitung Hengky Honandar dan Wakil Wali Kota Randito Maringka, Sekretaris Daerah Kota Bitung Rudy Theno, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Hadir pula perwakilan Konsulat Jenderal Jepang dan Filipina, Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Triyono, serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara. Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan luasnya dukungan terhadap penyelenggaraan festival dan promosi potensi wisata Kota Bitung.
Melalui puncak FPSL 2026, sinergi TNI AL, pemerintah daerah, pelaku pariwisata, dan masyarakat diharapkan terus diperkuat untuk mengembangkan potensi Selat Lembeh secara berkelanjutan. Pemanfaatan kawasan Satrol Kodaeral VIII sebagai lokasi kegiatan menunjukkan bahwa ruang kemaritiman dapat berkontribusi dalam mendukung agenda kebudayaan dan pariwisata tanpa mengesampingkan fungsi pertahanan. Momentum ini sekaligus mempertegas pentingnya menjaga harmoni, melestarikan budaya, serta mengoptimalkan kekayaan laut demi kemajuan Kota Bitung dan kesejahteraan masyarakat.
