GEBRAKAN SULTAN SEPUH PANGERAN KUDA PUTIH! SERUKAN GERAKAN NASIONAL STOP BULLYING, AJAK TOKOH NASIONAL, PENGUSAHA DAN SELURUH RAKYAT INDONESIA SELAMATKAN GENERASI BANGSA

GEBRAKAN SULTAN SEPUH PANGERAN KUDA PUTIH! SERUKAN GERAKAN NASIONAL STOP BULLYING, AJAK TOKOH NASIONAL, PENGUSAHA DAN SELURUH RAKYAT INDONESIA SELAMATKAN GENERASI BANGSA

Spread the love

“Jangan Biarkan Anak-Anak Indonesia Tumbuh dengan Luka yang Tidak Terlihat. Saatnya Kita Semua Bergerak!”

INDONESIA — Sebuah seruan kemanusiaan menggema dari Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Cirebon, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H., yang dikenal luas dengan julukan PANGERAN KUDA PUTIH. Melalui gagasan besar produksi film sosial nasional bertajuk “AKU BUKAN MUSUHMU, TAPI AKU SAHABATMU”, beliau mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu menyelamatkan anak-anak Indonesia dari ancaman perundungan atau bullying.

Bagi Sultan Sepuh, bullying bukan persoalan sepele, bukan sekadar kenakalan anak-anak, dan bukan pula masalah yang cukup diselesaikan dengan teguran sesaat. Perundungan dapat meninggalkan luka mendalam, menghancurkan rasa percaya diri, merampas kebahagiaan masa kecil, bahkan mengancam masa depan seorang anak.

Di tengah berbagai upaya membangun Indonesia yang maju, Sultan Sepuh mengingatkan bahwa ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: menyelamatkan mental, akhlak, karakter, dan masa depan generasi penerus bangsa.

SULTAN SEPUH: ANAK-ANAK SUDAH DIJAGA GIZINYA, LALU SIAPA YANG MENJAGA AKHLAK DAN MENTALNYA?

Dalam pesan yang menggugah perhatian, Sultan Sepuh menyampaikan sebuah pertanyaan yang patut menjadi renungan seluruh bangsa.

“Anak-anak Indonesia hari ini sudah menjadi perhatian pemerintah. Presiden Prabowo Subianto melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) berupaya memperhatikan kebutuhan gizi anak-anak Indonesia. Itu merupakan bagian penting dalam membangun generasi yang sehat.

Tetapi saya ingin mengajak kita semua berpikir lebih jauh. Kalau kebutuhan gizinya kita perhatikan, lalu siapa yang menjaga akhlak, mental, karakter, dan kesehatan psikologis anak-anak kita?

Inilah salah satu tanggung jawab yang ingin saya perjuangkan. Saya ingin ikut menjaga akhlak dan mental anak-anak Indonesia. Sebab, Indonesia tidak mungkin benar-benar menuju Indonesia Emas apabila generasi mudanya tumbuh dengan ketakutan, kehilangan kepercayaan diri, dan menjadi korban perundungan.

Kita tidak boleh hanya membangun fisik dan kecerdasan anak-anak, tetapi juga harus menjaga hati, akhlak, dan kemanusiaan mereka.”

Pernyataan tersebut menjadi pesan utama dari gerakan yang ingin dibangun Sultan Sepuh melalui kampanye STOP BULLYING.

BUKAN SEKADAR FILM, TETAPI GERAKAN KEPEDULIAN NASIONAL

Film “AKU BUKAN MUSUHMU, TAPI AKU SAHABATMU” merupakan gagasan dan inisiatif Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., M.H., sebagai sebuah karya sosial yang diharapkan mampu menjadi media edukasi, penyadaran, dan kampanye nasional melawan perundungan.

Film ini tidak hanya ditujukan sebagai tontonan, tetapi diharapkan menjadi tuntunan bagi anak-anak, orang tua, guru, lingkungan pendidikan, serta masyarakat luas.

Pesan yang ingin disampaikan sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam:

JANGAN JADIKAN TEMAN SEBAGAI MUSUH. JANGAN JADIKAN PERBEDAAN SEBAGAI ALASAN UNTUK MENYAKITI. KITA DICIPTAKAN UNTUK SALING MENGHARGAI DAN MENYAYANGI.

Sultan Sepuh ingin menghadirkan sebuah karya yang mampu mengetuk hati masyarakat, mengajak anak-anak memahami arti persahabatan, mengajarkan keberanian untuk menolak bullying, serta membangun lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang.

SULTAN SEPUH BUKA PINTU DONASI: BUKAN SOAL BESARNYA UANG, TETAPI BESARNYA KEPEDULIAN

Untuk mewujudkan produksi film sosial tersebut, Sultan Sepuh mengajak para tokoh nasional, pejabat negara, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, kalangan pengusaha, dunia pendidikan, komunitas sosial, hingga seluruh masyarakat Indonesia untuk turut mengambil bagian melalui dukungan dan donasi sukarela.

Ajakan ini bukanlah tentang seberapa besar nominal yang diberikan seseorang.

Sultan Sepuh menegaskan bahwa nilai sebuah kepedulian tidak dapat diukur hanya dari jumlah rupiah yang disumbangkan.

“Jangan melihat besar atau kecilnya donasi. Saya tidak sedang mengukur siapa yang paling banyak memberi. Saya ingin melihat bahwa di negeri ini masih ada hati yang tergerak ketika melihat anak-anak kita menjadi korban bullying.

Kalau ada pengusaha yang mampu membantu besar, silakan. Kalau ada masyarakat yang hanya mampu menyumbangkan sedikit rezekinya, itu pun sangat berarti. Bahkan dukungan moral, tenaga, jaringan, dan doa juga merupakan bentuk kepedulian.

Yang ingin saya buktikan adalah bahwa masyarakat sosial Indonesia masih ada. Bahwa bangsa ini masih memiliki rasa kasih sayang, kepekaan, dan kepedulian terhadap penderitaan anak-anak.

Jangan sampai kita menunggu anak kita sendiri menjadi korban baru kita tergerak untuk peduli.”

Seruan tersebut menjadi undangan terbuka bagi siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap masa depan anak-anak Indonesia.

Sebab, menyelamatkan satu anak dari perundungan berarti ikut menyelamatkan satu masa depan. Dan ketika kita bersama-sama menyelamatkan banyak anak, sesungguhnya kita sedang menjaga masa depan bangsa.

DIPERTUAN AGUNG DANRI TURUN TANGAN: BULLYING ADALAH TANGGUNG JAWAB KITA BERSAMA

Sebagai Dipertuan Agung Dewan Adat Nasional Republik Indonesia (DANRI), Sultan Sepuh memandang bahwa persoalan perundungan harus mendapatkan perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat.

Perjuangan melawan bullying tidak boleh dibatasi oleh jabatan, golongan, suku, agama, organisasi, ataupun kepentingan tertentu.

Ini bukan gerakan politik.

Ini adalah gerakan kasih sayang. Gerakan kemanusiaan. Gerakan kepedulian. Gerakan kepekaan sosial. Dan gerakan kebersamaan untuk mengawal generasi bangsa menuju Indonesia Emas.

Sultan Sepuh ingin mengajak para pemimpin, tokoh nasional, tokoh adat, tokoh agama, pengusaha, artis, insan pers, akademisi, dan seluruh masyarakat untuk tidak tinggal diam.

Karena ketika seorang anak dirundung, yang terluka bukan hanya dirinya. Masa depannya, keluarganya, dan harapan bangsa juga ikut dipertaruhkan.

INDONESIA EMAS TIDAK CUKUP DENGAN ANAK YANG CERDAS, TETAPI JUGA HARUS BERAKHLAK DAN BERMENTAL KUAT

Sultan Sepuh mengingatkan bahwa keberhasilan Indonesia Emas tidak semata-mata ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, ataupun kemajuan teknologi.

Bangsa yang besar juga harus memiliki generasi yang berkarakter, memiliki empati, menghormati sesama, berani membela kebenaran, serta tidak menjadikan kekuatan sebagai alat untuk menindas orang lain.

Anak yang sehat harus memiliki jiwa yang sehat. Anak yang cerdas harus memiliki akhlak. Anak yang kuat harus memiliki kasih sayang.

Karena itu, gerakan STOP BULLYING diharapkan tidak berhenti setelah film selesai diproduksi. Gerakan ini diharapkan terus berkembang menjadi budaya baru di lingkungan keluarga, sekolah, pesantren, komunitas, dan kehidupan bermasyarakat.

SERUAN TERBUKA SULTAN SEPUH UNTUK SELURUH INDONESIA

Di penghujung seruannya, Sultan Sepuh menyampaikan pesan yang menjadi ruh dari seluruh perjuangan ini:

“Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air.

Mari kita sisihkan sedikit rezeki, tenaga, pikiran, dan kepedulian kita untuk masa depan anak-anak Indonesia.

Hari ini mungkin bukan anak kita yang menangis karena bullying. Hari ini mungkin bukan keluarga kita yang merasakan luka akibat perundungan. Tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa hal itu tidak akan terjadi kepada anak-anak di sekitar kita?

Jangan menunggu menjadi korban untuk belajar peduli.

Saya mengajak seluruh tokoh nasional, para pengusaha, tokoh masyarakat, dan seluruh rakyat Indonesia, mari kita bergandengan tangan mewujudkan film sosial ini.

Saya tidak membutuhkan siapa yang paling besar donasinya. Saya membutuhkan sebanyak mungkin hati yang mau bergerak.

Mari kita buktikan bahwa Indonesia masih memiliki masyarakat yang peduli, masyarakat yang memiliki rasa kemanusiaan, dan masyarakat yang tidak rela melihat anak-anak bangsa tumbuh dalam ketakutan.

Karena anak-anak hari ini adalah pemimpin Indonesia esok hari.

STOP BULLYING!

AKU BUKAN MUSUHMU, TAPI AKU SAHABATMU.

Mari kita jaga anak-anak Indonesia. Mari kita jaga akhlaknya, mentalnya, dan masa depannya.

Ini bukan tugas satu orang. Ini tugas kita semua.”

SATU GERAKAN, SEJUTA HARAPAN

Kini, gagasan film “AKU BUKAN MUSUHMU, TAPI AKU SAHABATMU” diharapkan mendapatkan dukungan luas dari seluruh elemen bangsa.

Bukan semata-mata untuk melahirkan sebuah karya perfilman, tetapi untuk menghadirkan pesan kemanusiaan yang dapat menjangkau anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Sebab, mungkin sebuah film hanya membutuhkan waktu untuk ditonton, tetapi pesan kebaikannya diharapkan mampu hidup sepanjang masa.

JANGAN BIARKAN BULLYING MERAMPAS MASA DEPAN ANAK-ANAK INDONESIA!

STOP BULLYING — SELAMATKAN GENERASI BANGSA!

Inisiator Gerakan dan Gagasan Film:
KANJENG GUSTI SULTAN SEPUH CIREBON
PANGERAN HERU RUSYAMSI ARIANATAREJA, S.Psi., M.H.
PANGERAN KUDA PUTIH
Dipertuan Agung Dewan Adat Nasional Republik Indonesia (DANRI)

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *