
KUNINGAN – M T P –
Kisah memilukan datang dari Desa Nusaherang, Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan. Seorang anak bernama Adi harus menjalani kehidupan yang penuh ujian. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga dan perundungan yang dialaminya di lingkungan sekolah, Adi kini juga harus menerima kenyataan pahit setelah sang ayah meninggal dunia.
Kisah kehidupan Adi tergambar dalam sebuah rumah sederhana berdinding bilik bambu. Rumah yang jauh dari kemewahan itu menjadi saksi perjuangan sebuah keluarga kecil dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Adi tinggal bersama kedua orang tuanya. Sang ayah, yang diperankan Yanto Chrisdianto, telah lama menderita sakit dan hanya bisa terbaring lemah. Sementara ibunya, yang diperankan Siti Hardianti, dengan penuh ketabahan terus merawat suami sekaligus berjuang memenuhi kebutuhan keluarga.

Di tengah kondisi keluarga yang serba terbatas, Adi (diperankan Rafanizzar) dikenal sebagai anak pendiam. Meski demikian, ia memiliki potensi dan prestasi yang patut dibanggakan.
Namun, kehidupan Adi tidak selalu berjalan indah. Kondisi ekonomi keluarganya justru menjadi bahan ejekan sebagian teman sekolah. Ia harus menghadapi perlakuan tidak menyenangkan, kata-kata yang menyakitkan, hingga tindakan perundungan yang perlahan menggores perasaannya.
Ironisnya, Adi memilih memendam semua penderitaan tersebut. Ia tidak ingin menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya kepada kedua orang tuanya. Mungkin karena ia sadar, keluarganya sendiri sedang berjuang menghadapi persoalan hidup yang tidak ringan.
Setiap pulang sekolah, Adi hanya bisa membawa kesedihan itu kembali ke rumah. Di hadapan ayahnya yang terbaring sakit, ia berusaha menyembunyikan luka yang dirasakan. Sang ayah pun hanya mampu menyambut kepulangan anaknya dengan tatapan penuh kasih, tanpa banyak daya untuk melakukan sesuatu.
Sementara sang ibu terus berusaha memberikan perhatian dan kekuatan bagi keluarganya.
Namun, ujian kehidupan belum berakhir. Di tengah perjuangan menghadapi penyakit yang dideritanya, sang ayah akhirnya mengembuskan napas terakhir. Adi pun harus kehilangan sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Kini, selain menyimpan luka akibat perundungan, ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa ayah tercinta telah pergi untuk selamanya.
Sebuah kehilangan besar yang tentu tidak mudah diterima oleh seorang anak seusianya.
Diangkat Menjadi Kisah dalam Film Layar Lebar
Kisah menyentuh tentang kehidupan Adi tersebut menjadi salah satu bagian dari produksi film layar lebar berjudul “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu”.
Memasuki hari kelima proses produksi, pengambilan gambar dilakukan di Desa Nusaherang, Kabupaten Kuningan, dengan menghadirkan gambaran kehidupan keluarga sederhana yang harus menghadapi persoalan ekonomi, penyakit, kehilangan, serta dampak perundungan terhadap seorang anak.
Film ini merupakan karya Sultan Sepuh Cirebon, Pangeran Kuda Putih, melalui rumah produksi Kuda Putih Picture.
Kehadiran film ini bukan sekadar menghadirkan tontonan hiburan, tetapi juga membawa pesan sosial dan kemanusiaan. Melalui perjalanan hidup Adi, penonton diajak memahami bahwa tindakan bullying dapat meninggalkan luka mendalam bagi korbannya, terutama ketika dilakukan terhadap anak-anak yang sedang menghadapi persoalan keluarga.
Perundungan tidak boleh dianggap sebagai candaan biasa. Ejekan, penghinaan, pengucilan, maupun tindakan merendahkan orang lain dapat berdampak terhadap perkembangan mental, kepercayaan diri, dan masa depan seorang anak.
Karena itu, film ini juga menjadi bagian dari pesan kampanye nasional gerakan #STOPBULLYING, yang mengajak keluarga, pihak sekolah, masyarakat, pemerintah, serta seluruh elemen bangsa untuk lebih peduli dan mengambil peran dalam mencegah perundungan.
Melalui kisah Adi, ada pesan penting yang ingin disampaikan: jangan pernah menilai seseorang dari keadaan ekonomi keluarganya. Jangan menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan ejekan. Sebaliknya, hadirkan persahabatan, kepedulian, dan saling menghargai.
Sebab setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kasih sayang, pendidikan, perlindungan, dan lingkungan yang aman tanpa rasa takut.
Jangan biarkan seorang anak menghadapi luka sendirian. Jangan biarkan perundungan merampas kebahagiaan masa kecil mereka.
“AKU BUKAN MUSUHMU, TAPI AKU SAHABATMU.”
Sebuah pesan sederhana yang mengingatkan kita semua bahwa persahabatan dan kepedulian jauh lebih berharga daripada ejekan dan kebencian.
(Red)
