BATAM, 14 Oktober 2026 – Semangat persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama ditunjukkan oleh Ketua Harian Lembaga Adat dan Paguyuban Kedaerahan se-Kota Batam, H. Maryon, bersama Indra Sudirman, Amrizal, dan Awang Herman, melalui kunjungan silaturahmi kepada Dr. Nursalim Tinggi, M.Pd., Sekretaris Umum Lembaga Adat dan Paguyuban Kedaerahan se-Kota Batam, yang sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Casa Medika, Panbil, Batam. Keempat tokoh tersebut sekaligus merupakan petinggi IKSB.
Kunjungan ini bukan sekadar menjenguk rekan yang sedang sakit, melainkan juga menjadi wujud nyata kepedulian, kebersamaan, dan ikatan kekeluargaan dalam organisasi. Kehadiran H. Maryon bersama Indra Sudirman, Amrizal, dan Awang Herman membawa semangat baru bagi Dr. Nursalim Tinggi, M.Pd., yang tengah menjalani masa pemulihan.
Meskipun berlangsung singkat, kunjungan tersebut memiliki nilai silaturahmi yang sangat tinggi. Perhatian dan kehadiran sahabat di saat seseorang sedang menghadapi ujian kesehatan merupakan dukungan moral yang tidak ternilai. Sapaan hangat, doa, dan kebersamaan mampu menghadirkan kebahagiaan sekaligus menumbuhkan semangat untuk kembali pulih.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah organisasi tidak hanya diukur dari struktur kepengurusan, program kerja, atau kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kekuatan organisasi tercermin dari kepedulian para pengurus terhadap sesama, terutama ketika ada anggota atau keluarga besar yang sedang sakit maupun mengalami kemalangan.
Kunjungan ini diharapkan menjadi tonggak penting untuk membangun tradisi silaturahmi yang berkelanjutan di lingkungan Lembaga Adat dan Paguyuban Kedaerahan se-Kota Batam, termasuk keluarga besar IKSB. Apabila ada pengurus, anggota, atau keluarga yang tertimpa musibah, sudah selayaknya seluruh keluarga besar organisasi menunjukkan kepedulian melalui kunjungan, doa, dukungan moral, dan bantuan sesuai kemampuan.
Persaudaraan sejati tidak cukup hanya diucapkan dalam pertemuan atau dituangkan dalam program organisasi. Persaudaraan harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Kehadiran seseorang ketika saudaranya membutuhkan perhatian merupakan bukti bahwa hubungan kekeluargaan dibangun atas dasar ketulusan, bukan sekadar kepentingan jabatan atau organisasi.
Kehadiran H. Maryon, Indra Sudirman, Amrizal, dan Awang Herman memberikan teladan sederhana, tetapi bermakna. Mereka menunjukkan bahwa meluangkan waktu untuk menjenguk dan memberikan semangat kepada rekan yang sedang sakit merupakan bagian penting dari tanggung jawab sosial dan nilai kemanusiaan.
Semoga kunjungan tersebut menjadi inspirasi bagi seluruh pengurus dan anggota lembaga adat serta paguyuban kedaerahan di Kota Batam untuk semakin mempererat solidaritas dan kepedulian sosial. Dengan demikian, organisasi tidak hanya menjadi wadah berhimpun, tetapi juga menjadi rumah besar yang menghadirkan kehangatan, perhatian, dan dukungan dalam setiap keadaan.
Silaturahmi boleh berlangsung singkat, tetapi ketulusannya meninggalkan kesan mendalam. Persaudaraan sejati bukan hanya tentang siapa yang hadir ketika kita merayakan kebahagiaan, melainkan siapa yang bersedia meluangkan waktu ketika kita sedang menghadapi kesulitan. Semoga semangat ini terus tumbuh dan menjadi budaya di lingkungan Lembaga Adat dan Paguyuban Kedaerahan se-Kota Batam.(Nursalim Turarea).
