Kampanye nasional diperkuat melalui film layar lebar “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu” untuk membangun kesadaran bersama dalam melindungi generasi muda dari perundungan.
SIARAN PERS
JAKARTA — Dukungan terhadap gerakan pencegahan perundungan atau bullying terus mengemuka. Sekretaris Jenderal (Sekjen) ASLinmas (ASOSIASI SATUAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT) menyatakan dukungan terhadap pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Stop Bullying yang digagas oleh Dipertuan Agung Dewan Adat Nasional Republik Indonesia (DAN-RI), Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Cirebon, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, yang dikenal dengan gelar Pangeran Kuda Putih.
Dukungan tersebut juga mencakup pengembangan film layar lebar nasional berjudul “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu”, yang diinisiasi sebagai bagian dari kampanye nasional Stop Bullying. Film ini diharapkan menjadi media edukasi publik untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap dampak perundungan, khususnya bagi anak-anak dan generasi muda.
Sebagai bagian dari penguatan organisasi dan pelaksanaan program, Dipertuan Agung DAN-RI mengangkat Adhitya Yusma Perdana sebagai Dewan Penasihat Satgas Stop Bullying. Penunjukan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan strategi, memberikan masukan, serta memperkuat pelaksanaan program pencegahan perundungan secara berkelanjutan.
Gerakan ini membawa pesan bahwa perundungan bukan persoalan sepele. Dampaknya dapat memengaruhi kondisi psikologis, rasa percaya diri, hubungan sosial, hingga masa depan anak-anak yang menjadi korban.
Melalui Satgas Stop Bullying dan film nasional tersebut, para penggagas berharap semakin banyak pihak terlibat dalam membangun lingkungan yang aman, sehat, dan saling menghargai, baik di sekolah, keluarga, masyarakat, maupun ruang digital.
Film “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu” mengangkat pesan persahabatan, empati, keberanian menghadapi perundungan, serta pentingnya menghentikan budaya saling merendahkan. Pendekatan melalui karya sinema diharapkan mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas, terutama kalangan pelajar dan generasi muda.
Upaya pencegahan perundungan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak melalui edukasi, pendampingan korban, mekanisme pelaporan yang aman, serta peran aktif keluarga dan lembaga pendidikan.
Karena itu, inisiatif pembentukan Satgas Stop Bullying dan pengembangan film nasional ini diharapkan tidak berhenti pada kampanye dan produksi film, tetapi juga mendorong perubahan perilaku serta peningkatan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan utama gerakan ini sederhana: hentikan perundungan, bangun persahabatan, dan lindungi masa depan generasi bangsa.
Melalui Satgas Stop Bullying dan film nasional “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu”, para penggagas mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam menciptakan Indonesia yang lebih ramah, aman, dan bebas dari perundungan.
Tentang Gerakan Stop Bullying
Gerakan Stop Bullying merupakan inisiatif yang digagas oleh Dipertuan Agung DAN-RI, Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Cirebon Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, melalui gagasan pembentukan Satgas Stop Bullying dan pengembangan film nasional “Aku Bukan Musuhmu, Tapi Aku Sahabatmu” sebagai sarana edukasi dan kampanye publik.(red)
