SUKMAKU DI TANAH MELAYU

SUKMAKU DI TANAH MELAYU

Spread the love

 

Karya Dr. Nursalim Tinggi, M.Pd.
Ketua Afiliasi Pengajar, Penulis, Bahasa, Sastra, Budaya, Seni dan Desain (AFEBSKID) Provinsi Kepulauan Riau

Sukmaku di tanah Melayu
Negeri di antara gelombang
Negeri tempat matahari menyapa ufuk
Di laut luas yang membentang
Bukit-bukit hijau menjadi kenangan
Gedung-gedung tinggi menjulang
Kapal-kapal datang membawa harapan
Namun sukma tetap menyimpan kenangan

Sukmaku di tanah Melayu
Di antara pulau-pulau yang berpelukan
Di bawah langit Melayu yang luas
Di atas tanah yang menyimpan sejarah
Hang Nadim hidup dalam ingatan
Hang Tuah berlayar dalam hikayat
Gurindam berbisik dari kejauhan
Pantun menjadi denyut kehidupan

Sukmaku di tanah Melayu
Menyusuri kampung-kampung tua
Mendengar ombak di tepian pantai
Mencium asin angin laut
Di antara sampan dan jaring nelayan
Di antara surau dan rumah panggung
Di antara bahasa ibu yang perlahan
Terdesak bahasa zaman

Sukmaku di tanah Melayu
Meski hutan tidak lagi serimbun dahulu
Meski pantai dipagari beton
Meski kampung tua dikepung bangunan
Meski bahasa ibu kehilangan ruang
Meski anak-anak lebih akrab dengan layar
Daripada pantun dan gurindam warisan
Sukmaku tidak pernah kehilangan jalan

Sukmaku di tanah Melayu
Bukan sekadar gedung dan pelabuhan
Bukan sekadar kapal dan perdagangan
Bukan sekadar hiruk-pikuk pembangunan
Melayu adalah rumah
Tempat berjumpanya berbagai suku
Tempat berpadunya berbagai budaya
Tempat marwah dijaga sepanjang zaman

Sukmaku di tanah Melayu
Dari pulau hingga ke tanjung
Dari selat hingga ke lautan
Aku mendengar suara zaman
Yang berlari lebih cepat daripada kenangan
Namun di balik deru pembangunan
Masih ada bahasa yang dipertahankan
Masih ada Melayu yang diperjuangkan

Walau jutaan ombak menggulung
Walau ribuan asap kiriman dari negeri lain
Menyelimuti langit dan cakrawala
Walau zaman datang membawa perubahan
Walau wajah negeri terus berganti
Tidak, tidak, Dato
Tidak, Panglima
Sukmaku tetap di tanah Melayu

Tidak, tidak, Dato
Bukan gelar yang membuatku Melayu
Bukan pangkat yang membuatku setia
Bukan mahkota yang membuatku bertahan
Tetapi bahasa
Adat
Budaya
Dan tanah tempat sejarah ditanamkan

Tidak, Panglima
Walau angin membawa kabar dari seberang
Walau ombak memukul karang
Walau zaman menghapus sebagian kenangan
Walau dunia terus berubah
Sukmaku tetap bersandar
Pada tanah yang melahirkan bahasa
Pada tanah yang membesarkan marwah

Sukmaku di tanah Melayu
Aku tidak ingin Melayu tinggal nama
Tidak ingin budaya menjadi upacara
Tidak ingin bahasa ibu menjadi cerita
Yang hanya dikenang di buku-buku tua
Aku ingin pantun tetap berdendang
Gurindam tetap menjadi pedoman
Dan bahasa Melayu tetap dikenang

Walau jutaan ombak menggulung
Walau ribuan asap kiriman dari negeri lain
Datang menutup pandangan
Walau kapal-kapal meninggalkan pelabuhan
Walau manusia datang dan pergi
Tidak, tidak, Dato
Tidak, Panglima
Sukmaku tetap di tanah Melayu

Sukmaku di tanah Melayu
Jika kelak kita dipisahkan zaman
Jika gelombang membawa kita berjauhan
Jika pulau-pulau berubah wajah
Jika sejarah hampir terlupakan
Biarlah bahasa menjadi jembatan
Biarlah pantun menjadi dendangan
Biarlah Melayu tetap dalam ingatan

Sukmaku di tanah Melayu
Sungguh, Dato
Sungguh, Panglima
Walau jutaan ombak menggulung
Walau ribuan asap kiriman dari negeri lain
Walau zaman mengguncang segala yang ada
Tidak, tidak, Dato
Sukmaku tetap di tanah Melayu

(Nursalim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *