Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Cirebon: Kesultanan Cirebon Adalah Bumi Caruban Nagari yang Memiliki Jati Diri, Bahasa, dan Budaya Sendiri bukan Tatar Sunda

Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Cirebon: Kesultanan Cirebon Adalah Bumi Caruban Nagari yang Memiliki Jati Diri, Bahasa, dan Budaya Sendiri bukan Tatar Sunda

Spread the love

SIARAN PERS

Cirebon (26/07/2026) – Kanjeng Gusti Sultan Sepuh Cirebon, Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja, S.Psi., S.H., M.H., menyampaikan pandangannya mengenai identitas sejarah, budaya, dan masa depan wilayah Cirebon. Menurut beliau, Kesultanan Cirebon merupakan sebuah negeri yang memiliki jati diri, sejarah, bahasa, adat istiadat, dan peradaban yang berkembang secara mandiri, sehingga tidak tepat apabila identitas Kesultanan Cirebon disamakan atau disebut sebagai bagian dari Tatar Sunda.

“Kami memandang bahwa Kesultanan Cirebon adalah Bumi Caruban Nagari, sebuah negeri yang memiliki identitas, sejarah, bahasa, adat istiadat, serta sistem nilai yang berkembang secara mandiri. Oleh karena itu, kami sangat keberatan apabila wilayah Kesultanan Cirebon disebut sebagai Tatar Sunda, karena hal tersebut tidak mencerminkan identitas sejarah dan budaya Cirebon sebagaimana yang kami pahami dari tradisi dan warisan leluhur,” ujar Kanjeng Gusti Sultan Sepuh.

Beliau menjelaskan bahwa istilah Caruban Nagari merupakan simbol sebuah negeri tempat bertemunya berbagai suku, budaya, agama, dan bangsa yang kemudian melebur menjadi satu peradaban yang harmonis. Keunikan tersebut menjadikan Cirebon memiliki karakter yang berbeda dengan wilayah budaya lainnya di Nusantara.

“Memang benar hingga saat ini di sebagian wilayah Cirebon masih terdapat masyarakat yang menggunakan bahasa Sunda. Namun, penggunaan bahasa tersebut tidak serta-merta mengubah identitas Kesultanan Cirebon sebagai negeri yang memiliki bahasa, adat, budaya, tata nilai, dan tradisi yang khas. Cirebon adalah daerah yang unik, tempat bertemunya berbagai budaya dalam semangat persatuan yang melahirkan identitas Bumi Caruban Nagari.”

Kanjeng Gusti Sultan Sepuh juga menyampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada para leluhur Cirebon, khususnya Pangeran Cakrabuana sebagai pendiri Caruban Nagari dan Kanjeng Gusti Sunan Gunung Jati sebagai tokoh besar penyebar Islam sekaligus pemimpin yang membangun peradaban Cirebon.

“Leluhur kami, Pangeran Cakrabuana dan Kanjeng Gusti Sunan Gunung Jati, adalah pribadi-pribadi mulia, pemimpin yang hebat, bijaksana, serta memiliki kecerdasan luar biasa dalam membangun sebuah negeri yang menjunjung tinggi persatuan dalam keberagaman. Warisan mereka adalah identitas Cirebon yang wajib kami jaga dan hormati.”

Dalam kesempatan tersebut, Kanjeng Gusti Sultan Sepuh juga menyampaikan pandangannya mengenai wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda.

“Atas nama pelestarian sejarah dan identitas Cirebon, kami menyatakan menolak usulan perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda sebagaimana pernah diwacanakan oleh KDM. Bagi kami, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati. Kami menghormati sistem pemerintahan yang berlaku saat ini, sehingga kami berpandangan bahwa nama Provinsi Jawa Barat sebaiknya tetap dipertahankan demi menjaga persatuan dan menghindari potensi perbedaan penafsiran terhadap identitas budaya yang hidup di dalamnya.”

Lebih lanjut, beliau menyampaikan aspirasi agar pemerintah mempertimbangkan pembentukan Provinsi Cirebon Istimewa – Bumi Caruban Nagari sebagai daerah otonom tersendiri.

“Harapan kami adalah lahirnya Provinsi Cirebon Istimewa– Bumi Caruban Nagari yang terpisah dari Provinsi Jawa Barat melalui mekanisme konstitusional sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Aspirasi ini bukan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, melainkan sebagai bentuk pengakuan terhadap identitas sejarah, budaya, adat istiadat, bahasa, dan tradisi khas Cirebon yang telah tumbuh selama berabad-abad.”

Menurut beliau, pembentukan Provinsi Cirebon Istimewa akan semakin memperkuat pelestarian warisan budaya, meningkatkan pelayanan pemerintahan kepada masyarakat, serta mempertegas identitas Cirebon sebagai Bumi Caruban Nagari, negeri yang lahir dari semangat persatuan dalam keberagaman.

Di akhir pernyataannya, Kanjeng Gusti Sultan Sepuh mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga persatuan bangsa, menghormati keberagaman sejarah dan budaya Nusantara, serta terus melestarikan warisan para leluhur.

“Perbedaan identitas budaya bukanlah alasan untuk memecah persatuan. Justru keberagaman itulah yang menjadi kekuatan Indonesia. Kami tetap teguh menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sembari berharap identitas Cirebon sebagai Bumi Caruban Nagari memperoleh penghormatan dan pengakuan yang layak sebagai salah satu peradaban besar di Nusantara dan sampai saat ini Kesultanan Cirebon yang memberikan kontribusi besar untuk NKRI.”

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *